KEKUASAAN DAN BUDAYA ORGANISASI DALAM KONTEKS KOMUNIKASI ORGANISASI
DOI:
https://doi.org/10.30863/ajdsk.v8i2.3957Abstract
Salah satu konsep paling menarik di dalam perilaku organisasi adalah kekuasaan, berupa kemampuan untuk melakukan sesuatu atau memiliki otoritas dalam sebuah organisasi. Organisasi yang terdiri dari sekumpulan orang-orang yang tergabung di dalamnya semestinya mengenal dan memahami budaya dari setiap organisasi sebagai sesuatu yang esensial. Orang-orang memegang peranan penting dalam organisasi, dan karenanya sangat penting untuk mempelajari perilaku mereka sehubungan dengan keseluruhan organisasi. Keterlibatan anggota dari organisasi merupakan perilaku komunikasi yang memberikan kontribusi bagi budaya organisasi.Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengeksplorasi peran kekuasaan dalam sebuah organisasi. Jenis penelitian ini dilihat dari sudut pandang pengumpulan data adalah jenis penelitian kepustakaan, di mana hasil pencarian literatur digunakan sebagai sumber utama dari semua penelitian, dimulai dari pencarian penelitian sejenis, pendalaman kajian teori, hingga data penelitian dengan menggunakan sumber literatur berupa artikel/jurnal dan buku, ataupun sumber bacaan lainnya yang memiliki relevansi dengan penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gagasan tradisional tentang kekuasaan difokuskan pada individu dan pelaksanaan kekuasaannya. Kekuasaan adalah sesuatu yang dipegang dan ditangani manusia, berdasarkan sumber-sumber kekuasaan tertentu. Dasar-dasar kekuasaan ini dibedakan menjadi beberapa kriteria yaitu: Pertama, kekuasaan memberi ganjaran (reward power). Kedua, kekuasaan yang memaksa (coercive power). Ketiga, kekuasaan yang sah (legitimate power). Keempat, kekuasaan referen (referent power). Kelima, kekuasaan ahli (expert power). Budaya organisasi merupakan kekuatan pendorong yang substansial, dia adalah ‘mesin’ utama dalam organisasi. Praktik budaya berdampak besar pada bagaimana organisasi benar-benar bekerja dan bagaimana mereka berfungsi secara ekonomi dan mencapai tujuan kinerja. Mengingat korelasi antara budaya ‘positif’ organisasi dan efisiensi, kebutuhan untuk membentuk platform komunikatif sudah jelas yakni orang harus dapat berkomunikasi untuk berbagi kerangka budaya. Intinya menggeneralisasi interaksi sosial dalam organisasi sama dengan sebuah upaya mencapai tujuan pemahaman bersama sebagai kunci untuk membuat orang bekerja sama.
Kata Kunci: Kekuasaan; Budaya Organisasi; Komunikasi Organisasi